Nanma
: Maja Pranata Marbun
Nim : F1C111063
Prodi : Kimia S1
Mata Kuliah : Kimia Organik Fisik
Mata Kuliah : Kimia Organik Fisik
Dosen Pengampu : Dr.Syamsurizal.M,Si
Fakultas
Sains Dan Teknologi
UNIVERSITAS JAMBI
A.
TEORI
ASAM BASA
Asam dan basa sudah dikenal sejak
zaman dulu. Istilah asam (acid) berasal dari bahasa Latin
acetum yang berarti cuka. Istilah basa
(alkali) berasal dari bahasa Arab yang berarti abu. Basa
digunakan dalam pembuatan sabun. Juga
sudah lama diketahui bahwa asam dan basa saling
menetralkan. Di alam, asam ditemukan
dalam buah-buahan, misalnya asam sitrat dalam buah
jeruk berfungsi untuk memberi rasa
limun yang tajam. Cuka mengandung asam asetat, dan asam
tanak dari kulit pohon digunakan untuk
menyamak kulit. Asam mineral yang lebih kuat telah dibuat
sejak abad pertengahan, salah satunya
adalah aqua forti (asam nitrat) yang digunakan oleh para
peneliti untuk memisahkan emas dan perak. Kekuatan asam
dipengaruhi oleh banyaknya ion
– ion H+ yang dihasilkan
1.
TEORI MENURUT ARRHENIUS
Penetralan terjadi karena ion hidrogen dan ion
hidroksida bereaksi untuk menghasilkan air.
Asam hidroklorida (asam klorida) dinetralkan oleh
kedua larutan natrium hidroksida dan larutan amonia. Pada kedua kasus tersebut,
kamu akan memperoleh larutan tak berwarna yang dapat kamu kristalisasi untuk
mendapatkan garam berwarna putih – baik itu natrium klorida maupun amonium
klorida.
Keduanya jelas merupakan reaksi yang sangat
mirip. Persamaan lengkapnya adalah:
Pada kasus natrium hidroksida, ion hidrogen dari
asam bereaksi dengan ion hidroksida dari natrium hidroksida – sejalan dengan
teori Arrhenius.
Akan tetapi, pada kasus amonia, tidak muncul ion
hidroksida sedikit pun!
anda bisa memahami hal ini dengan mengatakan
bahwa amonia bereaksi dengan air yang melarutkan amonia tersebut untuk
menghasilkan ion amonium dan ion hidroksida:
Reaksi ini merupakan reaksi reversibel, dan pada
larutan amonia encer yang khas, sekitar 99% sisa amonia ada dalam bentuk
molekul amonia
Meskipun demikian, pada reaksi tersebut terdapat ion
hidroksida, dan kita dapat menyelipkan ion hidroksida ini ke dalam teori
Arrhenius.
Akan tetapi, reaksi yang sama juga terjadi antara
gas amonia dan gas hidrogen klorida.
Pada kasus ini, tidak terdapat ion hidrogen atau
ion hidroksida dalam larutan – karena bukan merupakan suatu larutan. Teori
Arrhenius tidak menghitung reaksi ini sebagai reaksi asam-basa, meskipun pada
faktanya reaksi tersebut menghasilkan produk yang sama seperti ketika dua zat
tersebut berada dalam larutan. Ini adalah sesuatu hal
Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang dalam air
melepakan ion H+, sedangkan basa adalah zat yang dalam air melepaskan ion OH–.
Jadi pembawa sifat asam adalah ion H+, sedangkan pembawa sifat basa adalah ion
OH–. Asam Arrhenius dirumuskan sebagai HxZ, yang dalam air mengalami ionisasi
sebagai berikut.HxZ ⎯⎯→ x H+ + Zx–
Jumlah ion H+ yang dapat dihasilkan oleh 1 molekul
asam disebut valensi asam, sedangkan ion negatif yang terbentuk dari asam
setelah melepaskan ion H+ disebut ion sisa asam. Beberapa contoh asam dapat
dilihat pada tabel 5.1.
Basa Arrhenius adalah hidroksida logam, M(OH)x, yang
dalam air terurai sebagai berikut.
M(OH)x ⎯⎯→ Mx+ + x OH–
M(OH)x ⎯⎯→ Mx+ + x OH–
Jumlah ion OH– yang dapat dilepaskan oleh satu molekul
basa disebut valensi basa. Beberapa contoh basa diberikan pada tabel 5.2.
Asam sulfat dan magnesium hidroksida dalam air mengion sebagai berikut.
Asam sulfat dan magnesium hidroksida dalam air mengion sebagai berikut.
H2SO4 ⎯⎯→ 2 H+ + SO42–
Mg(OH)2 ⎯⎯→ Mg+ + 2 OH–
Mg(OH)2 ⎯⎯→ Mg+ + 2 OH–
v Asam adalah
zat yang menghasilkan ion hidrogen dalam larutan.
Basa adalah zat yang
menghasilkan ion hidroksida dalam larutan
2.
Teori asam basa Brønsted–Lowry
Teori Bronsted-Lowry tidak berlawanan dengan teori Arrhenius – Teori Bronsted-Lowry merupakan perluasan teori Arrhenius.Ion hidroksida tetap berlaku sebagai basa karena ion hidroksida menerima ion hidrogen dari asam dan membentuk air.
Asam menghasilkan ion hidrogen dalam larutan karena asam bereaksi dengan molekul air melalui pemberian sebuah proton pada molekul air.
Ketika gas hidrogen klorida dilarutkan dalam air untuk menghasilkan asam hidroklorida, molekul hidrogen klorida memberikan sebuah proton (sebuah ion hidrogen) ke molekul air. Ikatan koordinasi (kovalen dativ) terbentuk antara satu pasangan mandiri pada oksigen dan hidrogen dari HCl. Menghasilkan ion hidroksonium, H3O+.
Ketika asam yang terdapat dalam larutan bereaksi dengan basa, yang berfungsi sebagai asam sebenarnya adalah ion hidroksonium. Sebagai contoh, proton ditransferkan dari ion hidroksonium ke ion hidroksida untuk mendapatkan air.
Tampilan elektron terluar, tetapi mengabaikan elektron pada bagian yang lebih dalam:
Menurut teori asam basa Brønsted-Lowry, asam adalah donor atau
penyumbang proton, dan basa adalah akseptor atau penerima proton.
Pengertian ini sebenarnya agak menyesatkan, karena lebih tepat merupakan
kompetisi proton antara dua senyawa dengan pemenangnya adalah basa.
Teori ini tidak menekankan tingkah laku asam yang menyumbangkan proton,
melainkan pentingnya peran pelarut yang mengalami swa-ionisasi
oleh karena berlangsungnya reaksi asam-basa. Jadi misalnya, air
mengalami swa-ionisasi dengan menghasilkan ion hidronium dan ion
hidroksida menurut persamaan reaksi berikut:
Harga Kw =[H3O+][OH -] = 1,0 x 10-14; 1,2 x 10-14 dan 4,8 x 10-13 mol2dm-6, masing-masing pada temperatur 25oC, 0oC dan 100oC.
Asam adalah
donor proton (ion hidrogen).
Basa adalah akseptor proton
(ion hidrogen
3.TEORI LEWIS
Teori Bronsted-Lowry mengatakan bahwa ketiganya berperilaku sebagai
basa karena ketiganya bergabung dengan ion hidrogen. Alasan ketiganya
bergabung dengan ion hidrigen adalah karena ketiganya memiliki pasangan
elektron mandiri – seperti yang dikatakan oleh Teori Lewis. Keduanya
konsisten.Jadi bagaimana Teori Lewis merupakan suatu tambahan
pada konsep basa? Saat ini belum – hal ini akan terlihat ketika kita
meninjaunya dalam sudut pandang yang berbeda.
Tetapi bagaimana dengan reaksi yang sama mengenai amonia dan air, sebagai contohnya? Pada teori Lewis, tiap reaksi yang menggunakan amonia dan air menggunakan pasangan elektron mandiri-nya untuk membentuk ikatan koordinasi yang akan terhitung selama keduanya berperilaku sebagai basa.
Tetapi bagaimana dengan reaksi yang sama mengenai amonia dan air, sebagai contohnya? Pada teori Lewis, tiap reaksi yang menggunakan amonia dan air menggunakan pasangan elektron mandiri-nya untuk membentuk ikatan koordinasi yang akan terhitung selama keduanya berperilaku sebagai basa.
Teori asam basa Bronsted-Lowry hanya
mampu menjelaskan reaksi asam basa yang melibatkan proton (H+),
lantas bagaimana dengan reaksi asam basa yang tidak melibatkan proton? Pada
tahun 1923, Gilbert N. Lewis mempublikasikan definisi asam basa berdasarkan
teori ikatan kimia. Ia berpendapat bahwa asam merupakan senyawa yang dapat
menerima pasangan elektron bebas, sedangkan basa merupakan senyawa yang dapat
memberikan pasangan elektron bebas. Dengan kata lain, setiap zat yang mempunyai
pasangan elektron bebas untuk disumbangkan pada zat lainnya dapat bertindak
sebagai basa dalam reaksi asam basa, begitu pula sebaliknya setiap zat yang
dapat menerima pasangan elektron bebas dapat bertindak sebagai asam.
# jawab pertanyaan #
1.apa ke unggulan dan kekurangan ke tiga teori tersebut jelaskan ?